Ketika ada keputusan MA agar Ujian Nasional ditiadakan, saya langsung bersorak gembira (Meskipun ini sepertinya cuma akan jadi harapan kosong). Saya mengamini jeritan anak-anak sekolah yang protes bagaimana mungkin 3 tahun masa belajar hanya ditentuin sama 3 hari masa ujian dan 3 mata pelajaran. Dan angka 3 itu pengaruhnya luar biasa buat masa depan anak bangsa ini. Mempertaruhkan masa depan anak bangsa dalam waktu 3 hari? Damn, it doesn’t make sense at all! Saya pikir sudah cukuplah bangsa ini mempertaruhkan masa depan anak-anaknya selama bertahun-tahun.
Saya percaya sekolah itu penting. Tapi dari dulu yang saya protes adalah sistim pendidikannya, pola pikir pemerintahnya, serta pola pikir masyarakat kita, dalam nerapin pendidikan itu.
Buat saya sekolah itu berfungsi memberikan ilmu sebesar-besarnya pada anak, membuka wawasan mereka, memperkaya pengetahuan mereka, mengarahkan mereka untuk mengenal potensi mereka, tapi bukan membentuk mereka!
Sekolah itu surga ilmu pengetahuan. Berikanlah pengetahuan sebesar-besarnya sebagai pembuka jalan bagi mereka untuk tau kemana arah tujuan mereka kelak, dan bukan malah menyesatkan. Berikanlah mereka motivasi untuk maju, jadilah motivator bagi mereka! Jadi bukan sekedar retorika.
Heran kenapa sistim motivator itu banyak digunakan orang ketika mereka dalam usia bekerja, di kantor-kantor, di perusahaan-perusahaan, tapi kenapa gak di sekolah? Padahal di usia SMA itu mereka sedang dalam masa mencari jati dirinya, masa menentukan cita-citanya kedepan. Masa yang sangat krusial.
Saya pikir banyak sekali sudah orang yang tersesat didalam belenggu pendidikan. Bersekolah tapi setelahnya mereka gak paham kemana tujuan mereka. Bersekolah tapi mereka gak tau mo dikemanain ilmu itu kelak. Bersekolah untuk kemudian tersesat. Bersekolah tapi cuma untuk formalitas. Bersekolah karna orangtuanya menyuruhnya bersekolah.
Ketika Farrel dulu pertama masuk SD, gurunya bertanya pada saya apa yang saya harapkan dari sekolah ini untuk Farrel? Saya jawab: “Saya pengen Farrel mengenal ilmu sebanyak-banyaknya dan mengenali potensi dirinya”.
Saya gak peduli soal nilai. Saya bukan orangtua yang mengharuskan anak saya pinter matematika. Kalo nilai matematikanya jelek itu gak masalah buat saya. Yang saya kejar bukan kelemahan atao kekurangannya. Justru saya pengen tau apa kelebihannya! Jika dia pintar olahraga maka saya gak akan paksa dia pintar matematika. Mungkin dikemudian hari justru olahraga yang akan menjadi sumber kehidupannya.
Then it turns up, Farrel sangat mencintai ilmu pengetahuan. Semua nilai mata pelajarannya nyaris sempurna, tapi di pelajaran olahraga dia kurang. Semua orang lalu berupaya keras berbagai acara agar Farrel maju di pelajaran olahraga. Saya bilang, “No.. no…!”. Kenapa kalian harus lakukan itu? Ketika seorang anak nilai olahraganya bagus, dia dipaksa untuk mempelajari matematika. Dan kini ketika seorang anak nilai matematikanya bagus, dia dipaksa untuk mempelajari olahraga! Cara berpikir macam apa itu?? Sistim pendidikan kita, pola pikir masyarakat kita, selalu melihat kekurangan seorang anak dan bukan pada kelebihannya! Bagaimana seorang anak bisa kenal potensi dirinya jika sistimnya seperti itu dan cara berpikir masyarakatnya seperti?
Buat saya masa bersekolah dari TK hingga SMA, adalah masa dimana mereka diberi kesempatan menyerap ilmu pengetahuan dasar sebanyak-banyaknya. Gak perlu terlalu detail yang jlimet, gak perlu buru-buru dijerumusin ke penjurusan ini itu, gak perlu bikin mereka harus jadi jenius, biarkan mereka resapi semua ilmu dan kemudian memilahnya sendiri sesuai dengan kemampuan mereka, sesuai dengan potensi mereka.
Saya adalah orang yang gak ngerti kenapa dulu saya dipaksa harus memahami hukum phytagoras bla bla (saya dah lupa nama-nama rumus laennya), memutar otak saya untuk angka-angka yang jlimet, rumus-rumus fisika yang membuat saya sampe keringat dingin, yang saya tau gak akan ada pengaruhnya untuk masa depan saya. Cukuplah saya dibuat mengerti bahwa ada rumus phytagoras bla bla, tanpa saya harus menguasainya luar kepala kan? Heloo…? Saya gak pengen jadi ahli matematika or fisika or kimia, doh?
Dan kalo saya harus gagal cuma karna saya failed di satu mata pelajaran itu, saya pikir kalian semua udah mempermainkan kehidupan saya, masa depan saya! Sekarang saya tanya kemana hukum phytagoras itu ketika saya harus banting tulang bikin film?? Kemana si Kalkulus itu ketika saya musti kelimpungan bayar tagihan bulanan saya??
Terlalu dinilah memaksakan berjibun rumus-rumus mendetil pada anak SMP dan SMA.
Saya tau banyak orang yang menjadi sarjana demi formalitas. Setelah formalitas terpenuhi atas nama pendidikan tinggi, masyarakat, dan orangtua, barulah mereka mulai memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Barulah mereka mulai berpikir tujuan hidup mereka. Mengejar cita-cita mereka sesungguhnya. Atao mereka baru berpikir gelar sarjana ini mo dikemanain? Mo diapain? Bahkan ada yang bingung “gue mo jadi apa ya?” setelah mereka jadi sarjana.
Akhirnya barulah mereka belajar mengenali potensi dirinya. Bayangkan di umur 20-24 tahun mereka baru mulai berpikir tentang itu?? Wow, itu sungguh-sungguh terlambat! Terus apa gunanya dong pendidikan mereka dari umur 7-24 tahun itu kalo mereka masih bingung tujuan hidupnya?? Kalo diitung itu artinya kita sudah membiarkan 17 taon kehidupan jutaan anak sia-sia belaka! Bayangkan 17 taon!!
Taukah kamu kalo tiap taonnya negara ini melahirkan sekitar 300 ribuan lebih sarjana dan yang tersedia cuma sekitar puluhan ribu lapangan pekerjaan?? So? Jika dunia pendidikan sebegitu kejamnya pada anak-anak kita, oke, setelah mereka menuruti sistim mu, setelah mereka akhirnya menjadi sarjana, terus apa? Apakah sistim mu itu akan menjadi jaminan bagi kesejahteraan masa depan mereka?? Jika tidak? Apa balasanmu setelah sekian taon mereka begitu patuhnya pada sistim yang kau ciptakan? Apa?
Saya gak akan pernah lakuin itu untuk anak saya. Cukup saya aja yang pernah terbelenggu dalam sistim itu. Banyak teman-teman saya yang gamang ketika lulus SMA dan bingung mo ambil jurusan apa. 9 dari 10 teman saya mengambil jurusan-jurusan yang populer saja. Mengerikan. Karna sejujurnya mereka gak tau dan gak mengenali potensi dirinya. Dan 9 dari 10 itu end upnya tidak memakai disiplin ilmu yang ditekuninya. “Yang penting udah jadi dokter/sarjana/insinyur/ untuk nyenengin orangtua”.
What?? Cara seperti itu yang pengen kamu beri buat anak kamu?
Mengenali potensi anak sejak dini itu yang terpenting dari segalanya dan kenapa itu justru yang gak pernah diberikan oleh sekolah, oleh sistem pendidikan kita, oleh masyarakat kita, oleh orangtua kita? Kenapa??
Semua hanya dipatok oleh nilai! Nilai my ass!! Terserah kalo ada guru atao orangtua yang marah dengan pernyataan saya, tapi udah saatnya kamu berontak kalo keadaan menyudutkanmu seperti itu. Peduli setanlah dengan itu semua! Pesan saya buat kamu, perkaya diri kamu dengan ilmu dan asah potensi kamu. Selalu fokus pada kelebihan kamu, dan bukan kekuranganmu. Jangan pedulikan orang lain, karna kamu yang lebih mengenal dirimu sendiri. Percayalah suatu hari nanti kamu yang akan menentukan masa depanmu sendiri dan semua sistim itu gak akan membantu apa-apa.
Dear parents.. mulailah berpikir terbuka soal pendidikan. Dan berontaklah jika kamu ngerasa sistim pendidikan yang ada membahayakan masa depan anakmu. Tapi yang terpenting selalu percaya pada potensi anakmu. Karna kepercayaan yang kamu berikan akan menambah keyakinan anakmu.
Saya gak akan paksakan Farrel menjadi seperti yang saya mau. Saya gak akan biarkan Farrel dibelenggu oleh sistim pendidikan yang kolot. Jika sistim pendidikan itu nanti tidak cocok dengan Farrel, what the hell, saya akan bebaskan dia dari belenggu itu. Masih banyak cara laen dalam mendapatkan ilmu. Bukan mereka yang menentukan masa depan Farrel, tapi Farrel sendiri nanti yang akan menentukan masa depannya.
Saya cuma pengen Farrel jadi anak yang bahagia.
Terserah apapun yang dipilihnya kelak, asal itu membuat hidupnya bahagia.
Dan itu akan membuat saya menjadi orangtua yang paling bahagia di dunia ini.
Love Ups
















