About Me

Foto Saya
upi
Jakarta, Indonesia
I'm a dreamer
Lihat profil lengkapku

Kamis, 03 Desember 2009

Mengapa kita bersekolah? Dan untuk apa kita bersekolah?


Ketika ada keputusan MA agar Ujian Nasional ditiadakan, saya langsung bersorak gembira (Meskipun ini sepertinya cuma akan jadi harapan kosong). Saya mengamini jeritan anak-anak sekolah yang protes bagaimana mungkin 3 tahun masa belajar hanya ditentuin sama 3 hari masa ujian dan 3 mata pelajaran. Dan angka 3 itu pengaruhnya luar biasa buat masa depan anak bangsa ini. Mempertaruhkan masa depan anak bangsa dalam waktu 3 hari? Damn, it doesn’t make sense at all! Saya pikir sudah cukuplah bangsa ini mempertaruhkan masa depan anak-anaknya selama bertahun-tahun.

Saya percaya sekolah itu penting. Tapi dari dulu yang saya protes adalah sistim pendidikannya, pola pikir pemerintahnya, serta pola pikir masyarakat kita, dalam nerapin pendidikan itu.

Buat saya sekolah itu berfungsi memberikan ilmu sebesar-besarnya pada anak, membuka wawasan mereka, memperkaya pengetahuan mereka, mengarahkan mereka untuk mengenal potensi mereka, tapi bukan membentuk mereka!

Sekolah itu surga ilmu pengetahuan. Berikanlah pengetahuan sebesar-besarnya sebagai pembuka jalan bagi mereka untuk tau kemana arah tujuan mereka kelak, dan bukan malah menyesatkan. Berikanlah mereka motivasi untuk maju, jadilah motivator bagi mereka! Jadi bukan sekedar retorika.

Heran kenapa sistim motivator itu banyak digunakan orang ketika mereka dalam usia bekerja, di kantor-kantor, di perusahaan-perusahaan, tapi kenapa gak di sekolah? Padahal di usia SMA itu mereka sedang dalam masa mencari jati dirinya, masa menentukan cita-citanya kedepan. Masa yang sangat krusial. 

Saya pikir banyak sekali sudah orang yang tersesat didalam belenggu pendidikan. Bersekolah tapi setelahnya mereka gak paham kemana tujuan mereka. Bersekolah tapi mereka gak tau mo dikemanain ilmu itu kelak. Bersekolah untuk kemudian tersesat. Bersekolah tapi cuma untuk formalitas. Bersekolah karna orangtuanya menyuruhnya bersekolah.

Ketika Farrel dulu pertama masuk SD, gurunya bertanya pada saya apa yang saya harapkan dari sekolah ini untuk Farrel? Saya jawab: “Saya pengen Farrel mengenal ilmu sebanyak-banyaknya dan mengenali potensi dirinya”.

Saya gak peduli soal nilai. Saya bukan orangtua yang mengharuskan anak saya pinter matematika. Kalo nilai matematikanya jelek itu gak masalah buat saya. Yang saya kejar bukan kelemahan atao kekurangannya. Justru saya pengen tau apa kelebihannya! Jika dia pintar olahraga maka saya gak akan paksa dia pintar matematika. Mungkin dikemudian hari justru olahraga yang akan menjadi sumber kehidupannya.

Then it turns up, Farrel sangat mencintai ilmu pengetahuan. Semua nilai mata pelajarannya nyaris sempurna, tapi di pelajaran olahraga dia kurang. Semua orang lalu berupaya keras berbagai acara agar Farrel maju di pelajaran olahraga. Saya bilang, “No.. no…!”. Kenapa kalian harus lakukan itu? Ketika seorang anak nilai olahraganya bagus, dia dipaksa untuk mempelajari matematika. Dan kini ketika seorang anak nilai matematikanya bagus, dia dipaksa untuk mempelajari olahraga! Cara berpikir macam apa itu?? Sistim pendidikan kita, pola pikir masyarakat kita, selalu melihat kekurangan seorang anak dan bukan pada kelebihannya! Bagaimana seorang anak bisa kenal potensi dirinya jika sistimnya seperti itu dan cara berpikir masyarakatnya seperti?

Buat saya masa bersekolah dari TK hingga SMA, adalah masa dimana mereka diberi kesempatan menyerap ilmu pengetahuan dasar sebanyak-banyaknya. Gak perlu terlalu detail yang jlimet, gak perlu buru-buru dijerumusin ke penjurusan ini itu, gak perlu bikin mereka harus jadi jenius, biarkan mereka resapi semua ilmu dan kemudian memilahnya sendiri sesuai dengan kemampuan mereka, sesuai dengan potensi mereka.

Saya adalah orang yang gak ngerti kenapa dulu saya dipaksa harus memahami hukum phytagoras bla bla (saya dah lupa nama-nama rumus laennya), memutar otak saya untuk angka-angka yang jlimet, rumus-rumus fisika yang membuat saya sampe keringat dingin, yang saya tau gak akan ada pengaruhnya untuk masa depan saya. Cukuplah saya dibuat mengerti bahwa ada rumus phytagoras bla bla, tanpa saya harus menguasainya luar kepala kan? Heloo…? Saya gak pengen jadi ahli matematika or fisika or kimia, doh?

Dan kalo saya harus gagal cuma karna saya failed di satu mata pelajaran itu, saya pikir kalian semua udah mempermainkan kehidupan saya, masa depan saya! Sekarang saya tanya kemana hukum phytagoras itu ketika saya harus banting tulang bikin film?? Kemana si Kalkulus itu ketika saya musti kelimpungan bayar tagihan bulanan saya?? 

Terlalu dinilah memaksakan berjibun rumus-rumus mendetil pada anak SMP dan SMA.

Saya tau banyak orang yang menjadi sarjana demi formalitas. Setelah formalitas terpenuhi atas nama pendidikan tinggi, masyarakat, dan orangtua, barulah mereka mulai memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Barulah mereka mulai berpikir tujuan hidup mereka. Mengejar cita-cita mereka sesungguhnya. Atao mereka baru berpikir gelar sarjana ini mo dikemanain? Mo diapain? Bahkan ada yang bingung “gue mo jadi apa ya?” setelah mereka jadi sarjana. 

Akhirnya barulah mereka belajar mengenali potensi dirinya. Bayangkan di umur 20-24 tahun mereka baru mulai berpikir tentang itu?? Wow, itu sungguh-sungguh terlambat! Terus apa gunanya dong pendidikan mereka dari umur 7-24 tahun itu kalo mereka masih bingung tujuan hidupnya?? Kalo diitung itu artinya kita sudah membiarkan 17 taon kehidupan jutaan anak sia-sia belaka! Bayangkan 17 taon!!

Taukah kamu kalo tiap taonnya negara ini melahirkan sekitar 300 ribuan lebih sarjana dan yang tersedia cuma sekitar puluhan ribu lapangan pekerjaan?? So? Jika dunia pendidikan sebegitu kejamnya pada anak-anak kita, oke, setelah mereka menuruti sistim mu, setelah mereka akhirnya menjadi sarjana, terus apa? Apakah sistim mu itu akan menjadi jaminan bagi kesejahteraan masa depan mereka?? Jika tidak? Apa balasanmu setelah sekian taon mereka begitu patuhnya pada sistim yang kau ciptakan? Apa?

Saya gak akan pernah lakuin itu untuk anak saya. Cukup saya aja yang pernah terbelenggu dalam sistim itu. Banyak teman-teman saya yang gamang ketika lulus SMA dan bingung mo ambil jurusan apa. 9 dari 10 teman saya mengambil jurusan-jurusan yang populer saja. Mengerikan. Karna sejujurnya mereka gak tau dan gak mengenali potensi dirinya. Dan 9 dari 10 itu end upnya tidak memakai disiplin ilmu yang ditekuninya. “Yang penting udah jadi dokter/sarjana/insinyur/ untuk nyenengin orangtua”.

What?? Cara seperti itu yang pengen kamu beri buat anak kamu?

Mengenali potensi anak sejak dini itu yang terpenting dari segalanya dan kenapa itu justru yang gak pernah diberikan oleh sekolah, oleh sistem pendidikan kita, oleh masyarakat kita, oleh orangtua kita? Kenapa??

Semua hanya dipatok oleh nilai! Nilai my ass!! Terserah kalo ada guru atao orangtua yang marah dengan pernyataan saya, tapi udah saatnya kamu berontak kalo keadaan menyudutkanmu seperti itu. Peduli setanlah dengan itu semua! Pesan saya buat kamu, perkaya diri kamu dengan ilmu dan asah potensi kamu. Selalu fokus pada kelebihan kamu, dan  bukan kekuranganmu. Jangan pedulikan orang lain, karna kamu yang lebih mengenal dirimu sendiri. Percayalah suatu hari nanti kamu yang akan menentukan masa depanmu sendiri dan semua sistim itu gak akan membantu apa-apa.

Dear parents.. mulailah berpikir terbuka soal pendidikan.  Dan berontaklah jika kamu ngerasa sistim pendidikan yang ada membahayakan masa depan anakmu. Tapi yang terpenting selalu percaya pada potensi anakmu. Karna kepercayaan yang kamu berikan akan menambah keyakinan anakmu.

Saya gak akan paksakan Farrel menjadi seperti yang saya mau. Saya gak akan biarkan Farrel dibelenggu oleh sistim pendidikan yang kolot. Jika sistim pendidikan itu nanti tidak cocok dengan Farrel, what the hell, saya akan bebaskan dia dari belenggu itu. Masih banyak cara laen dalam mendapatkan ilmu. Bukan mereka yang menentukan masa depan Farrel, tapi Farrel sendiri nanti yang akan menentukan masa depannya.

Saya cuma pengen Farrel jadi anak yang bahagia.

Terserah apapun yang dipilihnya kelak, asal itu membuat hidupnya bahagia.

Dan itu akan membuat saya menjadi orangtua yang paling bahagia di dunia ini.

Love Ups

 

Senin, 30 November 2009

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Serigala Terakhir


Sebenernya saya agak males ya membuat posting ini karna buat saya sebenernya ketika film ini ditonton orang terserah orang mo menginterpretasikannya seperti apa. Tapi berhubung banyak yang bertanya, daripada musti saya jawabin satu-satu mending pada baca jawabannya disini.

Q:Settingnya tahun berapa sih sebenernya? Kok sepertinya gak jelas banget.

A:Film ini gak nyeritain keterangan waktu dan tempat secara spesifik. Sejak saya bilang pengen bikin film bertema “gangster” ini, saya beranggapan bahwa gak semua film harus nyeritain spesifik ini taon berapa, bertempat dimana, bla bla. Apa yang kamu liat itu sifatnya imaginer.

Bebas dong saya pengen ngebuat kemasan seperti itu dalam film saya. Kenapa saya harus dibatasi oleh ruang dan waktu? Atao kenapa kamu harus melimitasi imajinasi kamu dengan ruang dan waktu? Just free your mind!

Saya selalu bilang di film ini “ide dasarnya yang real” dimana saya mengangkat realita yang saya liat kalo jagoan gak selalu menang. Bahwa kebaikan itu belom tentu selalu menang dan kejahatan belom tentu selalu kalah. That’s it. Selebihnya saya mengemasnya antara realita dan kegilaan imajinasi saya.

Ada yang bilang saya gak detail karna settingannya jadul tapi ada Bluebird sliweran. Hehe.. kalo dari awal saya mo create ini settingannya jadul, do you think I’m stupid enough to put Bluebird or Coca Cola Zero in there??  Harusnya darisitu kamu udah cukup pintar mengartikan kalo saya gak bikin tema jadul di film itu :)

Kita selalu ingin melihat apa yang kita ingin lihat, hingga kita menutup mata terhadap kemungkinan lain yang bisa dilihat yang berbeda daripada yang biasa kita lihat. Dunia teramat luas, banyak yang masih bisa kita explore. Jika dikehidupan nyata kita sulit melakukannya, kenapa kita tidak lakukan itu dalam imajinasi kita?

Saya selalu tertarik melihat film yang punya angle berbeda dari yang umum, saya tertarik melihat seperti apa dunia dibalik kacamata sutradara tersebut dan bukan dari kacamata saya. (note: saya emang sutradara yang keras kepala).


Q:Kenapa awalnya terkesan moderen tapi kelompok Naga Hitam terkesan jadul?

A: Sekali lagi, why not?? Saya punya medium untuk mengekspresikan kegilaan saya. Mengeksplore sesuatu yang tidak umum, tidak biasa. Kenapa kita harus batasi itu cuma dengan hal-hal yang umum?

Or kamu berharap mereka memakai pakaian mafia kita yang berseragam loreng-loreng? Atao berjubah putih dan bersorban?

 

Q:Kenapa milih pemaen yang orang kampung, tapi harus make aktor yang keren-keren? Kalo tampang kayak mereka kan bisa kerja jadi model daripada jadi preman jalanan.

A:Kalo gitu kenapa Julia Roberts harus jadi pelacur di Pretty Woman, kenapa Enggak pake pelacur beneran aja? Kalo secantik Julia Robert daripada jadi   pelacur kan mending jadi bintang film. Gitu maksudnya?

Cmon people, itu gunanya aktor! Mereka harus bisa memainkan karakter apa aja. Terus kalo saya bikin film tentang Alien, saya musti casting Alien beneran?

 

Q:Kenapa harus Vino lagi?

A:Why not? Dia aktor yang serius.

 

Q:Apa suatu keharusan pemaennya bertelanjang dada seperti itu?

A:Setelah sekian lama perempuan selalu jadi obyek yang ditelanjangi di film, kenapa cowok tidak? Gak aneh. Masih sebatas telanjang dada blom telanjang bulat.

 

Q:Upi sepertinya cuma ingin pamer dan gaya-gayaan dalam filmnya. (Ups ini pernyataan, bukan pertanyaan).

A:Jika kerja keras saat ini sama artinya dengan pamer dan gaya-gayaan, itu artinya kamu punya masalah sama cara berpikir kamu.

 

Q:Kenapa film ini tidak mencerminkan budaya kita sama sekali?

A:Kamu tau budaya saya? Budaya saya adalah apa yang saya lihat, saya dengar, dan saya rasa.

 

Q:Kayaknya di Indonesia gak ada tuh mafia kayak gitu?

A:Kalo kamu percaya kuntilanak, pocong, sundel bolong, suster ngesot, seperti apa yang film-film horor gambarkan, apa sulitnya mempercayai ini? 

Apa yang kamu tidak lihat bukan berarti itu tidak ada. Yang paling mengerikan adalah ketika itu ada tapi kamu tidak menyadarinya.

Ada juga yang mempertanyakan apakah mafia di Indonesia seburuk itu? Apa yang saya gambarkan disini sebagian adalah imajinasi saya, kenyataannya mungkin lebih buruk dari ini.


Q:Ceritanya gak real banget terlalu mengada-ada?

A:Apakah saya harus menceritakan real kehidupan kamu yang membosankan?

Kalo seperti itu Steven Spielberg gak akan pernah bikin ET. Atao bahkan Copolla gak akan pernah membuat Triloginya God Father. Kenapa? Karna dikehidupan nyata gak ada kehidupan mafia seperti yang digambarkan oleh Copolla, thats for sure.

 

Q:Polisi pada kemana di film itu, kok penjahat bebas berkeliaran seperti itu?

A:Sama seperti film-film dimanapun polisi tidak pernah datang pada waktu yang dibutuhkan. Sama seperti film horor, tiap ada setan mati lampu. Sama seperti film action kabur tapi malah naik keatas gedung.

Kecuali kamu rela beli tiket cuma untuk nonton 5 menit pertunjukan karna penjahatnya langsung ketangkep polisi :)

Stupid question!

 

Q:Apa gak ada bahasa laen selaen Anjing, Bangsat?

A:Saya akuin, my mistake. Lucunya selama saya ngedit filmnya saya gak ngerasain hal itu. Mungkin sangking ribetnya saat itu. Padahal pada saat shooting makian-makian itu yang selalu saya jaga agar gak kebanyakan. Mungkin jadi melebihi dari yang ada di script karna itu reflek dari pemaen sendiri sebab adegannya banyak berantemnya. My mistake.

 

Q:Film ini terlalu drama untuk film action?

A:Dari awal saya selalu bilang, ini bukan film action yang passingnya dikenal cepat. Saya bilang ini gangster movie, dimana drama juga memegang peranan penting.

Terlepas dari film ini terasa panjang, saya akuin seharusnya emang tidak perlu sepanjang itu.

 

Q:Apa maksud dari judul Serigala Terakhir? Emang Serigala pertamanya siapa? Dan siapa sebenarnya Serigala Terakhirnya?

A:Sebenarnya tidak penting Serigala pertama or Serigala Terakhirnya. The point its not there. I think the ending tells all.

 

Q:Bagaimana kamu menanggapi kritikus yang mengkritik habis film ini?

A:I don’t listen to them.

 

Q:Apa itu gak bikin kamu berhenti membuat film bertema seperti ini lagi?

A:I don’t sweat small things.

 

Q:Apa sih sebenernya pesan moral dari film ini?

A:Moral saya masih buruk, jadi saya bukan orang yang tepat untuk mengajarkan soal moral pada kamu. Tidak ada.

 

Q:Apa sih pesan dari film ini?

A:Just figure it out by yourself!

 

Apa yang saya tulis diatas sekedar menjawab pertanyaan bukan untuk mempengaruhi penilaian kamu terhadap film ini.

 

Long Live Perfilman Indonesia!!

 

Love Ups

 

Rabu, 25 November 2009

Hidup bukan sekedar nilai-nilai

Saya lagi prihatin banget ngeliat trend yang lagi mewabah. Budaya menilai orang lain, budaya menghakimi orang lain. Saya gak ngerti kenapa budaya ini jadi berkembang demikian besarnya bak wabah penyakit. Sepertinya sejak ada Facebook, twitter, blog, multiply, dsbnya, wabah ini seperti menemukan tempatnya untuk berkubang dan berkembang biak.

Yang saya takutkan adalah ketika kita asik menilai atau menghakimi orang lain, kita jadi lupa menilai diri kita sendiri. Apa kita emang udah lebih baik dari orang yang kita nilai? Ngeliat kekurangan orang lain emang pekerjaan yang paling enak dan mudah. Menghakimi, menjelek-jelekkan, mencaci, menghina, begh.. Tapi terus apa? Apa yang kamu dapat? Kepuasan? Kepuasan apa? Apa itu ngebuat diri kamu jadi lebih baik? Lebih hebat?

Saya pikir itu emang udah jadi budaya orang Indonesia. Menilai, menilai, menilai. Tapi lupa menilai diri sendiri. Seperti halnya kenapa sepak bola kita gak maju-maju? Karna kita terlalu banyak melahirkan manusia-manusia dengan jiwa komentator daripada atlit sepak bola yang cadas. Kita mungkin punya satu dua pemain bola yang jago tapi seratus orang komentator. Kita mungkin punya satu dua orang sutradara, musisi, penulis, dsbnya, tapi seratus orang kritikus karbitan. Kamu pilih mo berada dimana? Mo menambah jumlah pemain bola jago, sutradara, musisi, penulis, dsbnya yang handal, atao hanya sebagai penilai??

Itu kenapa Indonesia gak punya banyak orang-orang yang hebat di bidangnya, karna kita banyak menilai hingga kita akhirnya lupa untuk berbuat. Mental kita sekarang bak presenter infotainment.

Saya lebih menghargai orang yang berbuat sesuatu meskipun jelek, daripada orang yang gak berbuat apa-apa tapi bisanya cuma menjelek-jelekkan. Semua orang pasti punya kekurangan, semua orang pasti berbuat kesalahan, tapi paling tidak mereka ‘berbuat’ dan bukan cuma ngomong doang.

Bagi saya mereka pengecut.

Menilai orang lain mungkin untuk sebagian orang adalah cara ter-aman untuk hidup. Mereka berlindung dari kekurangan orang lain. Yang sebenarnya menurut saya mereka berlindung dari kekurangan mereka sendiri.

Berbuatlah sesuatu. Jadikanlah apa yang kamu nilai kurang pembelajaran buat kamu untuk membuat sesuatu yang lebih baik. Seperti yang saya bilang, menilai itu mudah, gampang, gratis lagi. Semua orang juga bisa. Bahkan orang terbodoh di duniapun. Tapi itu gak akan membuat kamu jadi lebih baik. Itu gak akan menjadikan kamu apa-apa.

Itu adalah pekerjaan termalas. Jadi daripada cuma buang-buang waktu mencari kekurangan orang lain, menilai kekurangan orang lain, maka bangun, lalu berbuat, berbuat, dan berbuat!

Turun langsung, bikin sesuatu, hasilkan sesuatu, lakukan yang terbaik, dan ketika nanti apapun yang kamu kerjakan dinilai orang kamu bisa berkata:

“Bukan anda yang menentukan nilai saya, saya yang akan menentukan nilai saya sendiri.”

Pernah dengar kata-kata “tak ternilai harganya”? Ya, hidup bukan sekedar nilai-nilai.

 *Sebagian orang hidup untuk berkarya, dan sebagian orang lagi hidup untuk membicarakan karya orang lain*

 

Kamu pilih yang mana?



Love Ups



Senin, 23 November 2009

Apa yang kita miliki itu indah.


Serigala Terakhir bener-bener dah menyita hampir seluruh energi saya. Beberapa bulan terakhir kemaren tenaga dan pikiran saya abis-abisan untuk itu. Well, itu ada baeknya dan ada juga gak baeknya. Baeknya, itu artinya saya ngasih seratus persen dari diri saya untuk film itu. Tapi gak baeknya…, duh ini yang paling bikin saya berdosaaaa… banget. Gak baeknya perhatian saya untuk my little Einstein jadi berkurang.

Saya berapa kali bilang kalo saya mungkin adalah Ibu yang bedebah! Kalo inget-inget itu suka bikin saya sedih juga. Hubungan saya dan Farrel kemaren itu cuma sebatas “Hai Farrel!” - “Bye Farrel!”. Tapi itu bukan karna saya gak peduli, tapi karna keadaannya yang menuntut harus seperti itu. Kamu dah baca kan postingan-postingan saya tentang Serigala Terakhir dengan segala keribetan, kekisruhan, dan perjuangannya? Kadang saya berharap bisa seperti Amoeba yang bisa membelah diri.

Saya inget ketika saya lagi ribet banget dan Farrel saya suruh stay aja lebih lama ditempat Ayahnya karna saya takut Farrel gak ada yang perhatiin kalo di rumah saya. Dan yang paling menyedihkan ketika Farrel sedang bersama saya menjelang keberangkatan saya ke Bangkok, dia panas tinggi. Saya dilema banget! Saya gak bisa ngurusin dia dan saya minta neneknya untuk jemput Farrel. Wah itu rasa berdosanya luar biasa.



Sekarang setelah semuanya kelar, saya mo membayar semua waktu yang ilang bersama Farrel. Tapiiii… yang menyebalkannya, sekarang dia lagi internet freak banget. Hampir seluruh waktunya diabisin didepan komputer mengulik wikipedia, mendownload entah apapun itu, dsbnya. Susaaah banget ngajak dia ngobrol, bermaen, apalagi ngajak pergi. Ih nyebelin deh. Kayaknya pengen saya putus aja sambungan internet di rumah saya.

UPI

Dul, kamu gak bosen internetan terus?

Kapan maen ama Cookie? Cookie dicuwekin terus.

 

Farrel menghela nafas kayak orangtua di sinetron-sinetron.

 

FARREL

Cookie… aku kan butuh ruang untuk diriku sendiri.

 

UPI

(dalam hati plus ekspresi bego)

He??  Butuh ruang??

 

What?? Dia artis ato apa sih? Nyebelin gak tuh? Sok bijaksana lagi jawabannya. Kayak dia yang lebih tua dari saya aja. Arrrgghh…. (btw, kadang saya suka bertanya, darimana sih dia dapet perbendaharaan katanya? Gimana anak umur 8 taon bisa make bahasa Indonesia yang baik dan benar kayak gitu? Yeah, mengingat perbendaharaan kata Ibunya yang minim dan suka diprotes orang karna di film bahasanya kasar melulu, hehe..).

Hmmm… wondering, apa dulu dia gak ketuker ya waktu lahir di rumah sakit? Sepertinya saya harus sudah mulai memikirkan tes DNA.

Tapi saya terus balikin ke diri saya sendiri, Farrel gak salah. Toh selama ini saya juga jarang ada nemenin dia. Gak salah juga kalo dia punya kesibukan laen. “Kesibukan laen” apakah ini kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan Ibu dan anak yang berumur 8 taon? Kok kayak Ibu dan pegawai ya? Oh tidak, kami bukan contoh keluarga yang ideal…!



Tapi mempertanyakan hal itu, sama juga mungkin kayak Farrel mempertanyakan kenapa dirinya dicuwekin terus dan saya sibuk bekerja. So its fair enough!

Huuuaaaaa… No no its not fair!! Farrel I need youuu… I miss youuu…  Saya gak mau internet sialan itu merebut anak saya!! Farrel kembaliiiii…. Internet, kembalikan anakkuuu…!! Farrel inget, aku Ibu yang udah melahirkanmu, Internet bukan Ibumuuu… Dia tidak melahirkanmuuu….

Sepertinya saya mulai gila membandingkan diri saya dengan internet. Tapi beneran deh Farrel bener-bener internet freak belakangan ini.




Suatu hari Ayah saya heboh, dia khawatir dengan pemikiran-pemikiran Farrel yang suka ekstrim dan ketertarikan dia akan ideologi-ideologi yang diharamkan di Indonesia, seperti komunisme, sosialisme, dan marxisme. Ayah saya yang juga gaptek bingung gara-gara wallpaper komputernya diganti bendera berlambang komunis, hehe… Saya lalu jelasin, Farrel itu semakin kita khawatir dia malah akan sengaja lakuin hal itu untuk nakut-nakutin kita. Dia paling seneng tuh ngeliat ekspresi khawatir kita. Jadi mending cuwekin aja. Anggep angin lalu aja komen-komen ngeselinnya seputar politik.

 UPI

Farrel, itu eyang bingung wallpapernya

 kok diganti bendera komunis. Ayo ganti.

Tar kalo eyang ditangkep polisi gimana?

 

FARREL

Tenang Cookie, udah aku ganti kok..

 

UPI

Kamu ganti apa?

 

FARREL

Aku ganti sama fotonya Hitler.

 

UPI

What??

 

Kalo saya sih dah kebal ya ama manuver-manuvernya yang ekstrim dan bombastis, tapi kalo Ayah saya dan kadang orang-orang laen di sekitar saya aja yang suka shock.

Baru dua hari kemaren saya berhasil menarik Farrel dari internetnya. Itu juga berkat bantuan Vino. Om Ipangnya itu bisa mengalihkan perhatiannya. Kita bertiga kembali seperti dulu kala, BERMAIN KUIZ!! Ya, setelah sekian lama, setelah dulu saya dan Vino sampe bosen gila diajak kuiz terus sama dia, tapi kali ini kita berdua begitu merindukannya dan excited banget! Yeah KUIZ!!

Pertanyaannya mulai dari sejarah Mc Donald, The Beatles, Mobil pertama, Perang dunia, dll,  campur baur deh. Dengan pilihan jawaban yang multiple choice, tentu aja memudahkan kita untuk cap cip cup, hehe. Kalo enggak, ketauan deh begonya kita berdua. Waaah senangnyaaa… anakku telah kembali!! Yeay!!

Oya, ada pembicaraan ngeselin lagi antara saya dan Farrel. Saya agak lupa tepatnya gimana dan apa, tapi kira-kira potongannya begini:

UPI

Kita tuh harus bisa mendobrak sejarah.

 

FARREL

Selamaaat!

(pause)

Selamat bermimpi..!

 

Ha ha ha ha, so you think you're funny, he? #@%??!! Bisa gak ya saya tuntut dia atas dasar perbuatan tidak menyenangkan?



Besoknya, Farrel juga mau diajak nonton ke bioskop. Kita bertiga nonton 3D Christmas Carol. (Interupsi bentar, sebenernya saya agak kurang sreg dengan model kacamata 3D yang kayak robot gitu. Gak modis banget. People look silly. I wish modelnya kayak Rayban wayfare. Mungkin gak ya kita bikin petisi supaya modelnya diganti?)

Oke, back to the topic. Udah lama banget kita bertiga gak pergi jalan-jalan bersama. Hari itu menyenangkan banget deh buat saya. Kita makan dan nonton bertiga. Meskipun tetep ya mo pergi Farrel bawa setumpuk buku bacaannya. Di pikiran saya dan Vino cuma dua. Either dia emang kutu buku, atao mungkin dia pikir pergi ama kita akan sangat membosankan jadi dia udah menyiapkan buku buat dibaca.

Apapun itu. Dua hari kemaren menyenangkan sekali. Meski blom membayar waktu-waktu saya yang ilang buat Farrel, tapi paling gak kita punya hari-hari yang indah. Dan saya bersyukur banget masih bisa memiliki itu.

Thank you son, meskipun kadang kamu ngeselin tapi kamu yang terbaik yang aku punya. Dan begitu juga aku, meskipun kadang aku Ibu yang bedebah, tapi aku tetep berusaha lakuin yang terbaik buat kamu…



Love Ups/ Proud Mom/ Happy Mom



Rabu, 18 November 2009

Serigala Terakhir: This Is It!


This Is It. Yeah, this is it. 

(Bukan judul filmnya Michael Jackson ya..)

 

Buat kamu yang udah ngikutin perjalanan Serigala Terakhir lewat blognya Upi mulai dari persiapan hingga akhirnya film ini rilis di bioskop, akhirnya bisa menonton film ini dan mengetahui proses di belakang layarnya.

So... this is it!

Tapi apapun yang terjadi di belakang layar, seberapa rumitnya, seberapa dissasternya, seberapa berdarah-darahnya jalan yang musti saya lewatin, jangan jadiin itu pemaafan buat kamu dalam menilai film ini. Kamu harus tetep obyektif dalam menilai berdasarkan apa yang kamu rasain. Apa yang saya tulis sebelomnya bukan beban kamu. Ketika kamu menonton, lupakan semua proses di belakang layarnya. Seperti halnya juga saya ketika menonton sebuah film, saya gak mikir kalo mungkin pada saat itu sutradaranya lagi ngalamin dilema atao masalah yang teramat besar ketika ngebuat filmnya.

Saya gak minta untuk dimengerti betapa sulitnya bikin film.

Ketika film ini rilis, film ini sudah bukan milik saya lagi. Film ini juga udah jadi milik publik. Terserah apapun yang orang nilai tentang film saya, itu bukan urusan saya lagi. Suka, gak suka, bagus, jelek, itu selera tiap orang. Saya juga gak bisa menyenangkan semua orang kan?

Apapun yang orang nilai dari film ini, sejujurnya gak akan mempengaruhi saya. Karna saya gak hidup dari penilaian orang laen. Kalo saya biarin diri saya terbuai oleh pujian orang atao terpuruk oleh caci maki dan hujatan, saya gak akan pernah jadi diri saya sendiri. Saya gak akan bisa lagi berkarya dengan jujur. Kenapa? Karna saya hanya akan berkarya cuma untuk memuaskan orang laen. Dan itu salah. Saya percaya, karya itu harus jujur.

Saya ada disini bukan untuk dicintai. Saya disini karna film adalah hidup saya. Saya disini bukan untuk menyenangkan hati/keinginan semua orang. Jadi disukai atao tidak disukai, saya akan terus disini dengan gaya saya.

Saya mempelajari sendiri kelebihan dan kekurangan saya. Saya gak perlu orang mendiktekan saya cara membuat film yang benar. Apakah saya terdengar sombong? Salah kalo kamu menilai itu. Karna ini juga berlaku buat kamu semua. Jangan pernah takut berbuat salah! Selalu percaya pada keputusan kamu sendiri dan jangan biarkan penilaian orang laen menguasai hidup kamu. Kamu yang lebih mengerti diri kamu ketimbang orang laen.

Apakah dengan berkata begini itu artinya Serigala Terakhir adalah film yang sempurna?? Nggak. Serigala Terakhir masih jauuuuh dari sempurna. Saya menyadari masih banyak kekurangannya. Kalo aja saya masih diberi kesempatan, pengen rasanya saya mengedit ulang beberapa bagian film ini. Mengingat karna saya diburu-buru waktu ketika mengedit film ini dulu. Durasi yang kepanjangan dan beberapa scene yang saya rasa terlalu mellow dramatic, rasanya pengen saya perbaiki. Damn, I wished I have more time back then!!

Tapi lepas dari kelebihan dan kekurangan dari film ini, semuanya saya jadiin proses pembelajaran. Bahwa saya pernah membuat Serigala Terakhir adalah kebanggaan tersendiri buat saya. Membuat film dengan skala sebesar itu bukan maen-maen, dan blom tentu saya dapet kesempatan untuk bikin film seperti ini lagi.

Saya mo ngucapin terimakasih yang sebesar-besarnya buat IFI, buat produser saya Adiyanto Sumarjono, yang udah kasih kesempatan dan kepercayaan yang luar biasa pada saya! Padahal saya nyaris mundur dari film karna fed up dan frustasi dengan industrinya, dan mo jadi ibu rumah tangga aja, hihihi..

Terimakasih buat semua crew yang punya faith besar ama film ini, buat para cast, fighter, team produksi, team promo, dan para investor. Terimakasih banyak!! You guys are superrr rocks!!

Saya bangga membuat Serigala Terakhir.

 


Love Ups



Senin, 16 November 2009

Serigala Terakhir: Shooting Itupun Berakhir (3)

Setelah kejadian bedebah ketinggalan pesawat sebelomnya, akhirnya saya sampe juga di Bangkok. Pengalaman kerja di Bangkok juga sama horornya dengan di Jakarta. Sampe di Bangkok jam 10 malem, naro barang dulu di hotel, dan langsung lanjut ke Technicolor malam itu juga. Capek dah gak berasa, karna time bukan lagi is money, tapi time is monkey! Jadwal yang sangat ketat ngebuat saya harus buru-buru bekerja dengan gaya kayak monyet, lompat sana, lompat sini. Terjang sana, terjang sini.

Untungnya orang-orang di Technicolor support saya banget. Meskipun jadwal saya dah kacau balau dan ngerusak jadwal mereka semua disana, mereka usahain banget nyelesein film ini semaksimal mungkin. Bule-bule yang ngerjain proyek ini pada geleng-geleng kepala sama jadwal yang sadis ini. Bahkan mereka mau hari Sabtu yang harusnya jadwal libur mereka untuk tetep kerja buat film ini. Thanks Mike, Steve, Barnaby, and Richard untuk antusias kerja kalian semua! You guys are my hero!!

Gara-gara Serigala Terakhir, bukan cuma saya aja yang pontang panting, tapi bule-bule disana juga pada pontang-panting gak keruan. Buat mereka proyek ini GILA!! Mereka juga rela begadang demi saya. Mungkin karna mereka kasian ngeliat cewek kurus dengan muka yang udah awut-awutan, hehe..

Technicolor udah kayak rumah saya. Ampir sebagian besar waktu saya diabisin disana ketimbang di hotel. Kerja dari pagi sampe malam untuk urusan gambar, balik hotel bentar buat istirahat, dan jam 2 pagi udah jalan lagi kesana untuk shift ngerjain sound mulai jam 3 pagi sampe jam 10 pagi!! Gokil gak?!

Seperti yang udah saya bilang sebelomnya, saya sebenernya dah gak kedapetan lagi jadwal untuk ngerjain sound, tapi berkat kebaikan mereka (thanks Ton), mereka selipin jadwal jam 3 pagi buat saya. Dan baiknya lagi Richard, sound enginernya mau bekerja dengan jadwal gila seperti itu.

Bayangin, ditengah otak yang beku dan lelah jam 3 pagi saya harus bisa sadar dan berpikir jernih. Capek yang udah numpuk dari semenjak di Jakarta, dah gak tau lagi deh rasanya. Blom lagi ditambah stres tingkat tinggi karna khawatir bisa gak pekerjaan ini terselesaikan. Richard, Kiki, dan Mbak Dian Hp, tampangnya udah kayak zombie semua. Blom lagi banyak kekurangan yang musti kita kejar. Seperti mbak Dian yang blom sempet nyelesein beberapa scoring, dan masih harus mengedit musiknya disana. Pfiuh… Gila gila gilaaaa...

Kita semua stres, kita semua capek luar biasa, yang nguatin kita cuma semangat kita untuk ngelakuin yang terbaik buat film ini. Saya beruntung ada orang-orang seperti Kiki dan Mbak Dian, yang spiritnya luar biasa. Mereka berdua terus nenangin saya dan nyemangatin saya. Kata mereka, “Kita bukan lagi the dream team, tapi kita adalah the strong team!”. Kalo kita gak sekuat dan setegar ini, udah amburadul lah film ini jadinya.

Technicolor bener-bener berantakan kita buat. Kita semua udah jumpalitan tepar di sofa-sofa ruangan kantor yang canggih itu. Bodo amet dah.

Sepuluh hari lebih saya berjibaku untuk nyelesein proses film ini disana. Kembali bekerja nyaris 24 jam! Pernah ada satu malam yang saya ngerasa ini udah melampaui batas kekuatan saya. Mental saya ambruk. Selama ini saya berusaha kuat, berusaha tegar, berusaha untuk berpikir positif, tapi saya juga punya banyak ketakutan akan seperti apa jadinya film ini dengan proses yang nyaris mustahil ini. Selama ini saya berusaha untuk gak mengeluh. Tapi saya udah gak kuat lagi. Saya capek. Saya lelah.

Saya ngerasa hidup saya udah gak normal.

Akhirnya ditengah mental yang udah down, saya gak sadar saya menangis, “Saya lelah… saya capek. Saya pengen semua ini cepet berakhir…”.

Ini bukan kisah mellow drama kayak sinetron. Ini kejadian nyata. Untung ada Vino. Dia yang menguatkan saya dan mengembalikan semangat saya. Mungkin gak banyak orang tau kalo Vino banyak banget ngebantu saya dalam proses pembuatan film ini. Masukan-masukannya berharga banget buat saya. Saya dan dia udah kayak partner in crime. Kita saling bersinergi.

Sebenernya apa yang terjadi di Bangkok lebih sadis dari cuma yang saya tulis disini. Tapi saya gak mo bermellow-mellow ria dengan cerita itu. Tapi dari apa yang saya dah tulis disini saya cuma pengen ngegambarin kalo saya juga punya kelemahan. Saya bukan orang yang selalu kuat setiap saat. Saya bukan wonder woman!

Tiga hari menjelang premier saya balik ke Jakarta dengan membawa film. Yeah, akhirnya dengan segala perjuangan film inipun kelarrr juga!! Meskipun dalam 3 hari kedepannya saya masih harus jumpalitan ngurus copy film, dll.

Terimakasih saya buat editor saya, Wawan (dan team: Icha & Sapta), sound designer saya, Kiki (dan team di Crossfade),  buat music director saya, Mbak Dian Hp (dan Fitri), buat Technicolor (Mike, Steve, Barnaby, Ton, & Richard), dan buat my rock n roll sweetheart, Vino.

Tanpa semangat kalian, saya gak akan bisa sekuat ini :)

 

Love Ups